I Made Sandy : tak lekang oleh waktu (2)
September 30, 2011 at 8:53 am 2 comments
Waktu terus berjalan, dari jaman perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan hingga sekarang. Sepertihalnya adanya manusia di muka bumi ini, pemimpin datang dan pergi. Pemimpin besar tidak ada di setiap generasi, pemimpin yang dikenang dan dipuja karena kebaikannya. Kiranya kita telah mengenal pemimpin-pemimpin besar di masa perjuangan kemerdekaan. Pada masa sulit dan penuh kesengsaraan inilah pemimpin besar lahir. Pasca kemerdekaan hingga sekarang dimana kita dikelilingi sumberdaya alam, pemimpin besarpun sulit ditemukan.
Gajah pergi meninggalkan gading dan harimau pergi meninggalkan belang. Demikianlah pepatah yang menggambarkan bagaimana kita akan dikenang dihari sepeninggal kita. Ingin dikenang baik, dikenang buruk atau tidak dikenang adalah pilihan kita. Untuk apa kita dilahirkan? Apakah hanya untuk mengisi rantai kehidupan manusia secara species, hidup hanya untuk berkembangbiak dan mati.
I Made Sandy, satu pemimpin di Direktorat Penatagunaan Tanah, BPN merupakan pemimpin besar dalam kantornya yang kecil diantara kantor-kantor instansi yang lain. Nama beliau selalu dikenang karena kebaikannya hingga sekarang. Nilai-nilai yang ditinggalkan I Made Sandy di antaranya adalah kesederhanaan, ketegasan, dan kedisiplinan. Beliau memesankan agar sebagai pegawai kita hendaknya tidak sentimentil, lebih mengedepankan rasio dibanding perasaan. Manusia yang sentimentil adalah manusia yang kalah, jangan mau kalah. Beliau adalah sosok pemimpin yang begitu memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Berikut adalah penggalan puisi “Sebuah Kenangan” karangan Kasijono dalam buku Kenang-Kenangan Pelepasan Purna Bhakti Bapak I Made Sandy (1987), staf TGT Jawa Tengah. Penggalan puisi ini menggambarkan bagaimana staf-staf TGT mencintai Pak I Made Sandy.
Setulus, sedalam relung kalbu
Aku terpukau
Aku terkesan atas
Wibawa kepemimpinanmu
Kejujuran lugu
Kesederhanaan berperilaku
Figur pemimpin yang banyak didambakan
Figur pemimpin yang patut diteladani
Kami masih memerlukan itu
Namun apa mau dikata
Mentari tugas sudah diufuk magrib
Sinarnya mulai memerah
Dirembang petang
Jasa jasamu akan s’lalu kukenang
Nasihatmu
Petuahmu
Akan kujadikan pelita
Entry filed under: BPN. Tags: I Made Sandy, Tata Guna Tanah.


1.
Wong cilik | October 5, 2011 at 8:18 am
Mantabs mz Git… paling suka yang ini
“… kita hendaknya tidak sentimentil, lebih mengedepankan rasio dibanding perasaan. Manusia yang sentimentil adalah manusia yang kalah, jangan mau kalah…”
luar biasa …
2.
Sigit | October 7, 2011 at 11:26 am
Hai Kang, itu prinsip beliau, dan inilah salah satu kunci suksesnya. Yen takpikir-pikir bener juga ya…. lesson learned….